Senja Dan Semesta : (2) Awal, Cerita Bermula

Senja Dan Semesta : (2) Awal, Cerita Bermula

 

KONYOL

Itulah kata pertama yang sempat terlintas ketika penulis mewawancarai, memintaku untuk bercerita dan ia akan menulisnya dalam sebuah buku. Siapa aku? Hanya seorang amatiran yang tak pandai menggambar dan menyanyi.

Entah apa yang menarik dari kisah hidupku hingga membuat penulis mempunyai ide untuk merangkum kisah hidupku kedalam sebuah buku. Kisah yang sampai saat ini, membuatku bisa tertawa terbahak-bahak. Entah karena lucu atau malah bisa dibilang menyedihkan. Kusarankan kalian untuk memilih pilihan pertama. Karena apa? Sudah dibilang penulis bukan? Aku paling benci dikasihani. Percayalah.

Kalian ingin mengetahui kisahku? Kalian benar-benar ingin tahu? Jika kalian meragu, bisa kalian tinggalkan tulisan ini. Dan lupakan semua. Anggap saja Aku tak pernah bercerita.

Kisahku bisa dibilang sederhana. Hanya berisi alur hidup seorang gadis 16 tahun yang ,, ya.. agak bisa dikata penuh petualangan dan penuh perjuangan.

Hey, jangan kira kisahku hanya berisi hal-hal yang konyol hingga membuat kalian tertawa sambil mengeluarkan air mata. Tuhan itu adil. Lupakah kalian akan hal itu?

Kisahku penuh warna. Dan aku bersyukur bahwa aku bisa menjadi tokoh utama dalam hidupku yang penuh warna itu.

***

Sragen, Juli 2013

Hanya duduk-duduk. Sambil melihat pohon yang bergoyang tertiup angin. Yang nyata-nyata semua orang tahu bahwa pohon itu tak kan berpindah. Aku tahu. Kegiatan yang kulakukan ini sangat tak bermanfaat. Sangat tidak produktif.

Tapi mau bagaimana lagi? Bayangkan saja bahwa kalian berada di posisiku seperti sekarang. Menjadi murid baru di Sekolah Menengah Pertama yang terkenal. Tak tahu siapa-siapa karena hanya kau satu-satunya yang berasal dari desa terpencil. Bukan terpencil tepatnya, hanya sedikit kurang maju dibanding yang lainnya.

Yang lainnya ( baca: teman-teman) sebenarnya juga baru, sama seperti aku. Hanya saja, aku merasa lain. Entahlah, sejak kejadian beberapa bulan lalu, aku merasa sangat asing dengan dunia luar. Seolah-olah aku terpinggirkan.

Aku tahu, tak seharusnya seperti ini. Tak seharusnya aku mengasingkan diri dari orang lain. Ya, seharusnya aku lebih bersososialisasi. Lebih mendekat agar tak kentara seperti orang autis. Kutegaskan, aku tak tahu.

Aku tak tahu bagaimana bisa aku seperti ini. Maaf, ralat. Aku tahu penyebabnya. Hanya saja, bagaimana bisa? Bagaimana bisa dalam bersosialisasi aku seburuk ini?

Sebenarnya aku sangat greget ingin menceritakan alasannya. Tapi ini masih bukan saat yang tepat. Masih dikatakan awal untuk menceritakan sesuatu yang berat diawal cerita. Bermaksud tak ingin membuat kalian -para pembaca, muntah sebelum berperang.

“Hey, lo kok diam aja sih? Kalem-kalem aja pas kelas udah gak bisa disebut kelas karena udah mirip pasar” sambil nyengir, kulihat cowok berambut ikal pendek bertanya padaku. Saat aku tengah mengamati kupu-kupu berwarna putih gading hinggap di bunga.

Cowok itu terlihat santai. Gayanya gak bisa disebut bad boy, tapi juga gak bisa disebut good boy atau bisa dibilang nerd.

Aku hanya menggeleng sebagai jawabannya. Ditambah ekspresi datar plus agak bingung. Sudah beberapa jam disekolah ini, dan selamat untuknya, karena dialah orang pertama yang menyapa ku.

Masih dengan tampang nyengir, setelah mendapat jawaban, dia berlalu dari hadapanku. Entah tadi sekedar basa-basi atau mencoba berkenalan. Aku tak mempermasalahkannya. Dan aku sendiri. Lagi.

***

Kantin.

Bisa dihitung dengan jari, dalam seminggu kuinjakkan kakiku disana. Ada beberapa alasan sederhana mengapa aku tak suka kesana.

Pertama, Hemat. Tak jadi persoalan bukan karena aku ingin hemat? Tak ada pihak yang dirugikan bukan? Dan tak perlu kuceritakan mengapa aku hemat. Karena lagi-lagi sudah dijelaskan penulis bahwa aku tak suka dikasihani.

Kedua, tempatnya kurang bersih. Entahlah, semenjak pertama aku melihat keadaan kantin sekolah yang bisa dikatakan agak kurang bersih. Minatku menjadikan kantin dalam priority tempat yang wajib kukunjungi menurun drastis. Membayangkannya saja sudah sangat amat malas. Maaf ibu kantin jika aku menyinggungmu.

Ketiga, karena aku sudah menemukan tempat utama, yang sudah ku sahkan secara tak tertulis menjadi markasku. Yaitu masjid.

Lagi-lagi, mengapa? Alasannya hanya satu. Karena disana sangat amat sepi dan nyaman. Aku tak suka ramai. Lebih suka sepi dan menyendiri.

Disana aku bisa melakukan apa saja. Kecuali mengotori masjid. Sangat pantang karena itu prinsipku. Kegiatan yang sering kulakukan adalah membaca buku, mengerjakan soal, essay atau TTS, tidur, dan tentu saja sholat.

Seburuk-buruknnya sifatku, aku sangat pantang meninggalkan Tuhan. Sedikit lebih dekat saja aku seperti ini. Bagaimana bisa aku hidup tanpaNya? Aku tak bisa dan tak mau membayangkannya.

Di masjid sekolahku ini, bisa dibilang kalo sebuah warung, itu masih sepi pembeli. Sejak beberapa minggu aku di sekolah ini, sangat jarang kulihat murid atau guru menginjakkan kakinya di masjid ini. Sangat jarang bukan berarti tidak ada ya. Ada tapi jarang. Ingat itu.

Seperti yang kulihat hari ini, seorang cowok entah dari antah berantah mana. Memakai seragam yang sama sepertiku masuk masjid untuk sholat. Saat aku sedang asyik-asyiknya membaca komik Detektif Conan yang baru aku beli kemarin.

Bodolah. Toh aku tidak mengganggunya. Dan dia tak menggangguku. Aku tak mengenalnya dan dia tak mengenalku. Just as simple as like that.

Setelah 6 rekaat, atau kira-kira 10 menit dia berkutat dalam sholatnya. Dia bergegas keluar. Hendak pergi. Ke kelas mungkin? Entah aku tak mau tahu.

Dia melihatku sekilas. Aku hanya diam sambil menaikan sebelah alis. Tanda bertanya. Dia hanya diam. Hey, siapa dia?

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s