Cerpen : AMANAT TUHAN, EMPAT JAM LALU

AMANAT TUHAN, EMPAT JAM LALU

Oleh : Ananda Dwi Rahmawati

Dalam dekapan dinginnya malam di bawah pekat semesta yang enggan menampakan kerlap-kerlip bintang, aku disana. Duduk di sebuah kursi panjang yang nyaris lapuk karena termakan usia. Menatap jalan lurus di depanku yang terlihat seperti tak ada ujungnya. Suasana sepi menjadikan pelengkap. Seolah-olah menjadi sebuah pengingat bahwa sekarang aku hanya sendiri.

Sejak 4 jam lalu, Tuhan seolah telah memberikan sebuah amanat besar kepadaku untuk menjadi seorang wanita yang kuat, tangguh, dan yang paling utama adalah mandiri. Seistimewa apakah makhluk seperti aku hingga aku diberikan sebuah amanat sedemikian besar?

Aku ragu aku bisa menyelesaikannya. Aku ragu aku bisa mencapai akhir. Aku ragu atas diriku sendiri. Semua itu datang secara tiba-tiba. Bukan seperti petir yang datang ketika beberapa detik sebelumnya datang peringatan sebuah kilatan cahaya. Bukan juga layaknya yang mati didahului sakit seperti kebanyakan orang.

Duniaku berubah sejak 4 jam lalu. Yang dulunya ada tawa, canda kebahagian, kini hilang tak bersisa. Tuhan mengambil semuanya dariku. Menyisakan diriku seorang ditemani kesepian, kesedihan dan kekosongan.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tak tahu. Hidupku seolah sudah tak memiliki arah tujuan. Tak memiliki angan dan cita-cita yang sewaktu kecil sering aku gaungkan kepada…. ayah, ibu dan kakak tercintaku.

Nanti, kalo udah gede. Anin mau jadi dokter. Biar bisa menolong orang. Enggak kayak ayah, tiap hari di kantor terus’.

 Ucapan yang sering terlontar dari mulutku ketika aku masih kecil. Tak lama setelah mengucapkan kalimat itu mereka pasti tertawa. Jenis tawa dari sebuah yang disebut keluarga. Tawa yang sekarang sangat aku rindukan. Tawa yang sederhana, namun aku ingin lagi melihatnya. Setidaknya untuk kali terakhir. Namun, aku tak bisa.

Seolah ragaku masih belum percaya perihal apa yang telah terjadi. Masih terekam jelas ketika pagi tadi, aku merasakan kehangatan mereka.

ketika ayah dengan terang-terangan mengomeliku karena aku bangun terlambat. ‘Belajar jadi perempuan, Nin. Umurmu sudah berapa?’ kata ayah singkat namun langsung mengena. Omelan sederhana dari seorang ayah kepada putrinya yang sudah menginjak remaja. Ayah memang lebih cerewet daripada ibu.

Terekam jelas wajah ibu yang menahan tawa karena aku diomeli ayah. ‘Gak apa-apa lah, ayah. Tadi malam aku melihatnya sudah menyetel alarm jam 4 pagi. Meski masih terlambat, tapi sudah kemajuan’. Ucap ibu sambil mengelus puncak kepalaku halus sambil tersenyum khas seorang ibu kepada puterinya.

Setelah itu, perdebatan kecil terjadi antara ayah yang masih mengomeliku dengan ibu yang kekeuh membela puteri bungsunya. Bukan perdebatan sengit. Bukan, perdebatan ini adalah perdebatan antara ayah dan ibu yang ujung-ujungnya aku yang tetap terkena omelan. Perdebatan yang diselingi gurauan hingga membuat aku cemberut.

Setelah hampir 30 menit aku yang merasa menjadi kambing congek antara ayah dan ibuku, terdengar langkah seorang menuruni tangga. Kak Ari. Kakak tercintaku. Seorang yang sejak kecil menjagaku saat ada tetangga yang tengah menggangguku. Bak super hero dia memarahi tetanggaku lalu menenangkanku ketika aku sudah menangis. Benar-benar seorang figur kakak sejati.

Anin emang kudu diajarin supaya gak kebo. Udah mau lulus SMA juga’. Ucap kak Ari tertawa sambil mengacak rambutku. Kebiasaannya sejak kecil yang belum hilang. Sontak aku tambah cemberut mendengar ucapanya. Ayah pasti bersekongkol dengan Kak Ari. Aku tak marah, tetapi aku menyukai dan aku merindukannya.

Aku merindukan mereka. Aku merindukan omelan ayah, pembelaan ibu, dan kejahilan Kak Ari. Semakin aku mengingat, semakin dalam aku merindukan mereka. semakin dalam aku merindukan mereka, peluang untukku untuk terpuruk menjadi semakin besar.

Tuhan, mengapa Engkau mengambil mereka begitu cepat? Mengapa? Terlalu berhargakah mereka sehingga Engkau cepat-cepat mengambilnya?’ ucapku lirih sambil menatap jalan lengang di depanku.

Pukul 10 malam arlojiku yang melekat di tanganku menunjukan. Tapi, seolah ragaku tak ingin bergerak se-inchi pun. Kaku dan beku. Hawa dingin menusuk kulit seolah tak ada rasanya, hambar. Hatiku jauh lebih dingin saat ini.

Anin. Aku janji, aku akan terus bersama kamu. Aku janji” ucap seorang pria yang baru datang. Dia memeluku pelan. Tapi, aku tak merespon. Tetap menatap kosong jalanan di depanku. Sulit rasanya untuk menggerakan tubuhku.

Aku janji, Anin. Aku gak akan pernah ninggalin kamu lagi” ucapnya sambil berurai air mata. Dia memeluk ku dari bawah. Dia menangis pelan di bahuku. Aku tetap tak bisa merespon. Pikiranku seolah tak mau berfungsi untuk saat ini.

Dia Rian. Rian Prasetyo lengkapnya. Dia yatim-piatu sejak umurnya 4 tahun. Saat itu ia sendirian, sama sepertiku sekarang. Karena tak tega, orangtuaku mengasuhnya dan menganggapnya seperti anaknya sendiri.

Kami tumbuh bersama. Maka tak heran ada benih-benih cinta tumbuh diantara kami. Ayah dan ibu menyetujui hubungan kami. Karena dia amat pintar, dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya ke Amerika 2 tahun lalu.

 ‘Anin, kamu tunggu aku ya. Aku bakal pulang untuk kamu. Jangan sedih dan jangan lirik lelaki lain’ ucapnya diakhiri gurauan ketika aku mengantarnya ke bandara.

Penantianku selama 2 tahun tak sia-sia. Akhirnaya ia pulang. Tapi, mengapa ia datang ketika semua sudah hilang? Ketika semua pergi, hanya Rian yang aku punya sekarang. Aku merindukan dia. Aku membutuhkan dia selalu di sampingku.

Perlahan tanganku mulai bergerak membalas pelukannya. Semakin mendekat, menyembunyikan kepalaku di cerukan lehernya. Dia masih menangis.

Ja..ngan per..gi Rian. Jangan tinggalin aku sendiri” ucapku terbata-bata dan sangat pelan nyaris berbisik.

Dia mengeratkan pelukan kami. Mencoba menguatkan satu sama lain. “Aku gak akan pernah ninggalin kamu, Anin. Aku janji” ucapnya di tengah-tengah tangisnya. Mendengar 2 kalimat itu, bebanku seolah berkurang. Aku percaya padanya. Aku percaya akan janjinya.

Mulai saat ini, hidupku akan menjadi hidupnya. Hidupnya pun akan menjadi hidupku. Kami berjanji untuk melaksanakan amanat yang diberi Tuhan 4 jam lalu. Menjadi kuat, tangguh dan mandiri.

SELESAI

-Salam, Penulis Amatiran..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s