Hai!

Pada jurnal ini saya ingin berbagi mengenai Google Cloud Storage (GCS) yang merupakan salah satu service keren dan sangat powerful di GCP. Service Cloud Storage pada dasarnya adalah service penyimpanan untuk object storage, dan itu adalah data-data non-relational seperti video, audio, images, dll.

Disini akan dijelaskan bagaimana cara membuat sebuah bucket, folder, bagaimana mengupload sebuah file, set permission, move, dan delete ya.

Okay, langsung saja ya!

Pertama akses ke https://console.cloud.google.com/, buka menu Storage. Atau bisa langsung search Storage di kolom pencarian.

Setelah diklik akan muncul dashboardnya, seperti berikut ini. Dashboard ini berisi bucket-bucket yang kita buat. Oiya, bucket dalam GCP merupakan istilah untuk merepresentasikan sebuah wadah untuk 1 penyimpanan.

Berdasarkan gambar diatas, saya belum memiliki bucket. Untuk membuatnya, klik Create Bucket. Lalu akan muncul tampilan berupa step-step untuk membuat bucket.

Pertama, kita set nama bucket yang akan kita buat. Lalu klik Continue.

Oiya, perhatikan di panel kanan, itu menunjukkan prediksi berapa cost yang akan kita habiskan untuk bucket tersebut ya.

Selanjutnya kita pilih tipe lokasi ya.

Untuk tipe Region berarti bucket kita hanya akan berada di satu region saja dan latensinya kecil, ini biasanya untuk user yang hanya berada di sebuah region saja. Tampilan Region:

Untuk Dual-Region maka bucket akan berada di dua region dan akan ada HA di antara kedua region tersebut, misal Tokyo dan Osaka. Tampilan Dual-Region:

Jika Multi-region maka bucket akan berada di berbagai region yang areanya berdekatan misal untuk US kan terdiri dari beberapa region, ya. Untuk lebih lengkapnya ada di https://cloud.google.com/storage/docs/locations Disini saya pilih Multi-Region:

Disini saya pilih Multi-Region. Jika sudah, bisa klik Continue.

Selanjutnya, kita pilih default storage class. Berdasarkan dokumentasi resminya di https://cloud.google.com/storage, GCS memiliki beberapa tipe storage , seperti standard storage untuk tipe data hot atau yang sering diakses, nearline untuk data yang disimpan minimal 30 hari, coldline untuk data yang disimpan setidaknya 90 hari, dan yang terakhir adalah archive untuk data yang disimpan minimal 12 bulan atau 365 hari. Kesemua itu memiliki kelebihan dan kekurangan, yup dan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Disini saya pilih Standard ya. Lalu klik Continue.

Selanjutnya, untuk control access. Saya pilih Fine-gained.

Untuk tab advanced settings, kita diminta untuk memilih tipe encryption, saya pilih google-managed encryption key.

Lalu klik Create. Hasilnya:

Perhatikan menu berikut ini:

Kesemua itu, merupakan beberapa fitur untuk manajemen bucket. Pertama, saya coba upload files ya. Klik Upload Files dan arahkan ke file yang ada di komputer/laptop yang akan diunggah ke bucket.

Secara default, file yang kita upload statusnya adalah Not Public. Artinya, hanya kita sebagai owner, dan user-user yang ditambahkan yang memiliki akses.

Untuk manajemen files seperti mengubah akses file, bisa klik titik tiga yang berada di kanan file. Tampilannya seperti berikut ini. Kita bisa menyalin, rename, move, edit metadata, dan kita akan coba untuk edit permission.

Berikut tampilan edit permission nya. Entity merupakan scope yang akan diberikan akses, Name untuk siapa yang diberikan akses, dan Access adalah akses apa yang diberikan. Disini saya coba akses untuk Public untuk semua users dan hak aksesnya adalah hanya baca.

Jika sudah, klik Save.

Hasilnya seperti berikut ini:

Bisa kita klik Copy URL dan coba buka di tab baru. Hasilnya akan seperti ini:

Untuk melihat seperti apa tampilan file yang tidak dishare, di url bagian nama file cukup diganti dengan nama files yang ingin dilihat. Misalnya:

Okay, selanjutnya kita coba buat folder. Bisa klik UPLOAD FOLDER:

Isikan nama:

Yang jadi pembeda antara file dengan folder adalah adanya simbol (/) atau slash di akhir nama folder. Seperti berikut ini.

Maka, ketika mengakses sebauh file dalam folder, akan tetera nama foldernya, seperti berikut ini:

Sekian!